PEACE Scholarship Program opens gate for a brighter future

Untuk semua anak muda Indonesia yang mempunyai mimpi seperti saya, kalian pasti bisa mencapainya. Saya hanyalah seorang anak dari sebuah desa kecil yang tidak mempunyai akses informasi dan pendidikan sebaik anak-anak yang dibesarkan di kota besar. Namun orang tua saya sangat mendorong saya untuk bisa maju seperti anak-anak lain di kota besar.

Untuk mewujudkan mimpi itu, mulai semester 2 saya mulai giat mencari informasi tentang pertukaran pelajar dengan beasiswa atau pengiriman misi kebudayaan ke luar negeri. Walaupun masih sangat jarang bahkan bisa dibilang tidak ada informasi yang dibagikan di kampus saya mengenai pertukaran pelajar ke luar negeri, hal itu tidak mematahkan semangat saya untuk mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar. Saya berfikir, memutar otak dan akhirnya dalam beberapa bulan saya menyisihkan sebagian uang saku saya setiap bulannya untuk “nongkrong” di warnet dan mencari informasi sebanyak banyaknya tentang pertukaran pelajar. Setelah pencarian itu, akhirnya saya menemukan PEACE Scholarship program.

Sebuah program youth exchange yang menurut saya sangat bagus untuk perkembangan anak muda Indonesia. PEACE Scholarship program memberikan kesempatan kepada anak muda Indonesia yang mempunyai mimpi, visi dan misi dalam hidupnya untuk mengembangkan dirinya di arena international dan menularkan pengalamannya kepada para pemuda lain di Indonesia.

Demi mendapatkan informasi tentang PEACE Scholarship dan konsultasi lengkap agar bisa lolos beasiswa ini, saya nekat mendatangi kantor IDP Education Australia dengan menggunakan busway saat study tour Komunikasi UGM. Tekad yang bulat membuat saya berani menghadapi Jakarta seorang sendiri untuk kali pertamanya, walaupun saya tahu jika orang tua saya tahu mereka tidak akan mengijinkan saya untuk bepergian sendiri di ibukota ini.

Saya berhasil menemui Ibu Rachmi dan berkonsultasi perihal PEACE Scholarship Program. Kemudian saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri dalam program ini. Setelah itu saya menyiapkan semua persyaratan termasuk essay dalam bahasa Inggris yang saya buat dan mencari bantuan teman saya yang seorang native untuk mengoreksi bahasa inggris saya demi kesempurnaan essay saya itu. Kenekatan dan kesungguhan saya membuahkan hasil. Setelah dinyatakan memenuhi persyaratan minimal IELTS, saya mendapat kesempatan melakukan pertukaran pelajar dan belajar selama 6 bulan di Deakin University Australia.

Ibu Rachmi, dulu sebagai manager di IDP Education Australia sangatlah besar hati. Beliau memberikan masukan mengenai bagaimana caranya untuk dapat berhasil mengikuti program PEACE Sholarship. Beliau bersama IDP juga memberikan saya tips dan trik untuk dapat lulus IELTS. Pihak IDP yang pada saat itu diwakili ibu Rachmi sangat membantu saya dalam persiapan keberangkatan ke Australia, mulai dari tiket, visa, akomodasi dan sebagainya. Beliau juga memberikan nasihat-nasihat untuk apa saja yang sebaiknya dilakukan dan yang semestinya tidak dilakukan di negeri Kangaroo. Beliau juga membantu saya meyakinkan orang tua saya bahwa saya akan bisa survive dan bahwa program ini akan sangat bermanfaat bagi saya ke depannya.

Saya pun berangkat ke kota Melbourne di tahun 2006. Setelah menyelesaikan Short English Course di Deakin University Melbourne,  saya pindah ke kota Geelong untuk melakukan kuliah yang sebenarnya selama 1 semester. Saya mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan Public Relations dan Marketing sesuai dengan minat saya. Dalam perkuliahan dan kehidupan di Australia, saya harus beradapatasi dengan cepat. Semua proses perkuliahan dilakukan dalam bahasa Inggris, mulai dari mendengarkan dosen saat menjelaskan, membaca makalah, kerja kelompok, menulis tugas dan mengerjakan ujian. Semua berjalan dengan lancar dan saya mendapatkan nilai yang bagus.

Dalam kehidupan sehari-hari saya tidak hanya berteman dengan pelajar Australia dan Indonesia saja, tetapi juga dengan pelajar dari berbagai Negara lain seperti Afrika, Brazil, Turki, Malaysia, Pakistan, Amerika, Denmark, China dan sebagainya. Bahkan saya juga mendapatkan seorang sahabat dari Norwegia yang sampai saat ini hubungan kami masih sangat baik. Perbedaan yang ada diantara kami membuat kami semakin kaya. Saya belajar tentang budaya mereka dan memahami kebiasaan masing-masing satu sama lain. Bergaul dengan teman-teman dari berbagai penjuru dunia mengajarkan kita banyak hal dan membuat wawasan kita menjadi semakin luas. Berbagi dengan pelajar PEACE Sholarship dari negara lain juga sangat memperkaya wacana budaya international saya. Kami semua saling menghormati satu sama lain. Pengalaman ini menumbuhkan rasa percaya diri saya menjadi lebih tinggi. Dari mommy’s little girl saya menjadi anak yang sangat mandiri, dan belajar untuk tidak selalu bergantung pada orang lain.

Saya sangat merasakan manfaat dari pengalaman saya menjadi salah satu penerima PEACE Scholarship Program ini. Jalan saya untuk bekerja di multinational company sangat mulus dengan adanya pengalaman tinggal, belajar dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya. Pengalaman ini juga memberikan nilai plus pada CV saya saat saya mendaftar untuk pengajuan beasiswa Master Degree di Perancis dari salah satu perusahaan multinational. Mereka menganggap bahwa kemampuan saya sudah teruji selama kurang lebih 9 bulan tinggal di Negara lain. Dan memang benar adanya, saya menjadi tidak canggung lagi untuk bergaul dengan teman-teman dari Negara manapun.

Sekali lagi saya ingatkan kepada semua pemuda Indonesia. Jangan pernah takut untuk bermimpi. Rangkai tujuan dalam hidup dan setialah kepadanya. Insya Allah dengan usaha dan doa semua bisa menjadi nyata. Passion kills the impossibility!

Sally Diantiny – Brand Manager Pest Control, Reckitt Benckiser